Showing posts with label Twitter. Show all posts
Showing posts with label Twitter. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Gimana Sih Nasib Media Sosial Di Masa Depan?

Gimana Sih Nasib Media Sosial Di Masa Depan?


Media sosial Facebook sempat berjaya, menjadi salah satu cara komunikasi baru di era digital. Namun seiring waktu, kepopuleran Facebook seolah meredup dengan kedatangan Instagram dan Snapchat.


Peralihan cara berkomunikasi pun tampak semakin jelas. Mulanya, pengguna media sosial gemar berbagi status atau gambar untuk muncul di feed. Lambat laun, fitur stories di berbagai platform media sosial mengubah kebiasaan tersebut.

Fitur stories bahkan disebut menyalip feed sebagai cara utama orang-orang dalam berbagi sesuatu kepada teman mereka. Menurut perusahaan konsultan Block Party, pembuatan dan konsumsi stories meningkat hingga 842 % sejak awal 2016.

Hampir satu miliar akun di Snapchat, Instagram, Whatsapp, Facebook dan Messenger membuat dan menonton tayangan stories. Pergeseran cara ini terbilang luas. Pengguna kini mempertimbangkan bagaimana setiap momen bisa ditambahkan demi menunjukkan eksistensi mereka.


Media sosial juga turut berperan dalam pergeseran ini, mereka terus memperbarui desain tampilan dan lebih menyoroti kamera serta stories pengguna. Alhasil, pengiklan harus memikirkan ulang pesan persuasif mereka dalam sebuah stories yang sanggup memikat pengguna tanpa mengklik iklan tersebut lebih lanjut.

Seperti dilansir dari TechCrunch, stories di WhatsApp memiliki lebih dari 450 juta pengguna aktif per harinya. Stories di Instagram melebihi 300 juta pengguna, dan Facebook Messenger lebih dari 70 juta pengguna.

Ini merupakan data yang bisa menjadi gambaran masa depan. Block Party menghitung bahwa stories tumbuh 15 kali lebih cepat ketimbang feed pada kuartal kedua 2016 hingga kuartal ketiga pada 2017.

Jumlah itu bahkan belum termasuk stories AMP baru Google yang dipakai oleh Netflix dan stories sebagai fitur baru Youtube.


CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengakui bahwa perusahaannya bakal lebih fokus ke stories. Ia juga berencana menghadirkan fitur iklan di stories dan memastikan formatnya sama baiknya seperti iklan pada feed.

Pendiri dan eks CEO Instagram, Kevin Systorm sendiri tak menyadari jika fitur stories akan menjadi cara berkomunikasi yang digandrungi banyak pengguna. Saat dirilis, Systorm mengatakan, “itu hanya membuat Kamu bisa melihat sorotan”.

Systorm tampak memandang stories sebagai media yang sederhana untuk berkomunikasi. Siapa sangka, fitur ini sekarang sangat akrab di kalangan pengguna media sosial, sehingga berbagai platform juga mengadopsi stories.

Monday, October 29, 2018

Cara Mudah Tingkatkan Followers di Twitter

Cara Mudah Tingkatkan Followers di Twitter


Berbeda dari Facebook atau Snapchat, aplikasi Twitter bisa memicu lebih banyak stres saat digunakan, terutama bagi mereka yang butuh popularitas dengan cara meningkatkan follower.

Alasannya hanya satu. Pada aplikasi Twitter, jumlah follower bisa sangat menentukan seberapa jauh gagasan atau selera Anda diapresiasi oleh para penghuni platform berlambang burung biru itu.

Tetapi jangan cemas. Ada banyak cara untuk meningkatkan follower di Twitter. Simak ulasan berikut, seperti dilansir dari Digital Trend:

Foto yang Tepat

Pilihlah foto profil yang tepat dan membuat Anda mudah dikenali, karena profil akan memantik kesan pertama pengguna Twitter lain terhadap Anda.

Wednesday, April 19, 2017

Twitter Ramai Hashtag Soal Pilkada

Twitter Ramai Hashtag Soal Pilkada

Ramai Twitter soal Pilkada
Ramai Twitter soal Pilkada
Warga DKI Jakarta kembali menggunakan hak pilih mereka di putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), untuk menentukan gubernur dan wakil gubernur periode 2017-2022.

Antusiasme tidak hanya terlihat di Tempat Pemungutan Suara (TPS) melainkan juga di jagat dunia maya.

Hal itu terlihat dari cuitan warganet di situs mikroblogging Twitter. Dengan teknologi yang twitter miliki, Ia tetap menyuguhkan short news yang banyak digunakan oleh beragam media pemberitaan.

Pantauan Kami, Rabu, 19 April area Twitter Indonesia didominasi cuitan soal Pilkada. Bahkan Tanda Pagar (hashtag) #PilkadaDKI menjadi yang paling populer alias trending topic nasional.

Lainnya, hashtag #NyoblosTanpaRusuh, #ExitPoll, dan #QuickCount mewarnai linimasa, dengan jumlah cuitan mencapai angka puluhan ribu.

Kebanyakan warganet masih menyerukan dukungan bagi pasangan calon (paslon) pilihan mereka. Ada juga yang melontarkan cuitan sindiran dan olok-olok terhadap salah satu paslon.

Namun, ada juga yang menyebut agar warga Jakarta berbesar hati, siapapun pemenangnya. Banyak juga yang menulis agar calon petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bisa legowo jika kalah.

Sebut saja pemilik akun @cindy_dauna yang menulis “#PilkadaDKI pak @basuki_btp menang/kalah buat saya Bapak tetap hebat..You should be proud of yourself and what you've done for this city.”

Lainnya, akun @469hobby mencuit, “Siapapun yg terpilih Gubenur DKI nanti semoga Djakarta Makin Jadi Ibukota :) #NyoblosTanpaRusuh #PilkadaDKI.”

Adapun pemilik akun @bakpau29 menulis, “Kalah sebagai gubernur itu ya sudahlah. Mungkin saat nya naik jadi mentri atau lebih tinggi. Maju terus Pak Ahok #PilkadaDKI.”

Selain itu, hashtag seputar Pilkada lainnya yang menjadi trending topic di Twitter adalah #TPSRutanKPK dan #UsaiMencoblos.

Instagram, Sosial Media yang Penggunanya Paling Narsis

Instagram, Sosial Media yang Penggunanya Paling Narsis


Sosial Media Instagram berada urutan teratas sebagai platform media sosial paling banyak buat narsis dibanding Snapchat, Twitter dan Facebook.

Temuan itu mengacu pada riset terbaru yang melibatkan 10.000 orang partisipan generasi milenial, yang diusung LendEDU.

Dua pertiga partisipan juga mengakui bahwa mereka memberi jempol sebuah postingan dan video sebagai balasan dari orang yang sebelumnya memberi 'like' juga di postingan mereka.

"Generasi muda saat ini tidak akan mempermasalahkan kenapa mereka menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, Snapchat, atau Twitter, mereka menggunakannya untuk memenuhi hasrat ego untuk terhubung di era digital, share aktivitas keseharian, dan pencitraan mereka pada publik," ungkap juru bicara LendEDU, seperti dilansir Daily Mail, baru-baru ini.

Riset itu menemukan bahwa ada 64 persen partisipan meyakini Sosial Media Instagram merupakan platform media sosial buat narsis. Angka itu lebih tinggi dibanding media sosial lainnya, seperti Facebook 10 persen, Snapchat 15 persen dan Twitter 11 persen.

"Pengguna Sosial Media Instagram dipengaruhi oleh satu hal penting, yakni 'like'."

Riset tersebut juga mempertanyakan: "Apakah kamu juga memberi jempol pada akun orang lain yang memberi 'like' di postinganmu?"

Reponsnya mengejutkan karena 67 persen partisipan menjawab 'Ya' karena itu merupakan kode tak tertulis di Instagram.

Temuan lainnya, adalah ketika mereka ditanyakan, "Apakah mereka atau ada orang lain menghapus postingan ketika tidak mendapat banyak acungan jempol atau like?"

Total 78 persen mengatakan mereka atau orang lain yang mereka kenal menghapus postingan begitu tidak mendapat banyak 'like'.

Temuan ini membuktikan bahwa mayoritas pengguna media sosial tidak sepenuhnya bermaksud membagi pengalaman mereka dengan orang lain, melainkan ingin mendapatkan banyak 'like'.

"Generasi milenial lebih memilih menyembunyikan kehidupan mereka sebenarnya dari publik daripada tidak mendapat 'like' di Instagram."